Harapan Timnas Indonesia U-23 untuk tampil di Piala Asia U-23 2026 akhirnya harus kandas. Garuda Muda hanya mampu finis sebagai runner-up Grup J dengan empat poin dari tiga pertandingan. Sayangnya, hasil itu belum cukup untuk membawa Indonesia masuk dalam empat runner-up terbaik yang berhak lolos ke putaran final di Arab Saudi.
Baca juga: Seru! Indonesia Vs Laos Berakhir Imbang 3-3
Kegagalan ini terasa pahit karena dua tahun lalu, di edisi 2024, Indonesia U-23 berhasil mencetak sejarah dengan melaju ke semifinal dan hampir lolos ke Olimpiade Paris. Kini, situasinya berbalik: tim asuhan Gerald Vanenburg harus tersingkir lebih awal.
Daftar 16 Negara Peserta Piala Asia U-23 2026
Turnamen akan menghadirkan 16 tim terbaik Asia, terdiri dari tuan rumah, juara grup, dan empat runner-up terbaik. Berikut daftarnya:
Tuan Rumah:
Arab Saudi
Juara Grup (11 negara):
- Yordania – Grup A
- Jepang – Grup B
- Vietnam – Grup C
- Australia – Grup D
- Kirgistan – Grup E
- Thailand – Grup F
- Irak – Grup G
- Qatar – Grup H
- Iran – Grup I
- Korea Selatan – Grup J
- Suriah – Grup K
Empat Runner-up Terbaik:
- China
- Uzbekistan
- Lebanon
- Uni Emirat Arab (UEA)
Dengan begitu, Asia Tenggara tetap punya dua wakil: Vietnam dan Thailand. Bahkan Australia, yang juga tergabung di AFF, ikut melangkah mulus.
Catatan Pahit untuk Indonesia
Indonesia mengakhiri kualifikasi dengan:
Baca juga: Tiket Laga Kandang Timnas Indonesia di Piala AFF 2024 Sudah Dijual
1 kali menang
1 kali imbang
1 kali kalah
Hasil ini menempatkan Garuda Muda di posisi ke-10 klasemen runner-up terbaik. Padahal, hanya empat posisi teratas yang bisa melaju.
Kondisi ini menunjukkan ada pekerjaan rumah besar yang harus dibenahi. Dari permainan yang kurang konsisten, efektivitas lini depan yang tumpul, hingga strategi yang sering berubah-ubah.
Evaluasi untuk PSSI dan Timnas
Kegagalan kali ini bukan sekadar soal tidak lolos turnamen, tapi juga sinyal bahwa fondasi pembinaan sepak bola muda Indonesia masih rapuh. Ada beberapa catatan penting:
Baca juga: Hokky Caraka: Api Semangat Sepak Bola Indonesia yang Tak Pernah Padam
- Regenerasi Pemain Belum Optimal
Indonesia punya stok talenta muda yang banyak, tapi sistem pencetakannya belum terarah. Kita masih sering bergantung pada “generasi emas” tertentu. - Strategi Permainan Tidak Konsisten
Performa tim kerap naik turun. Di satu laga bisa solid, tapi di laga lain kehilangan arah. Ini PR besar buat pelatih dan tim teknis. - Pembinaan Usia Dini Masih Lemah
Sekolah sepak bola (SSB) dan akademi klub harus lebih serius menyiapkan pemain sejak dini, bukan sekadar jago di kelompok umur tapi mandek di level senior. - Kontinuitas Program PSSI
Sering gonta-ganti pelatih dan kebijakan bikin program jangka panjang tidak jalan. Padahal, negara-negara lain yang lolos punya blueprint jelas.
Peluang dan Harapan ke Depan
Meski gagal ke Piala Asia U-23 2026, bukan berarti pintu prestasi tertutup. Justru ini bisa jadi momentum refleksi untuk:
- Memperkuat kompetisi lokal usia muda, seperti Liga 1 U-20 atau turnamen elite youth.
- Memberi jam terbang internasional lebih banyak, bukan hanya di level Asia Tenggara.
- Membangun identitas permainan yang konsisten, sehingga siapapun pelatihnya, tim punya gaya main khas.
- Publik tentu kecewa, tapi ini juga kesempatan buat PSSI untuk serius membenahi sistem, bukan hanya sibuk urus hasil instan.
Menuju Arab Saudi 2026
Putaran final Piala Asia U-23 2026 akan berlangsung di Arab Saudi pada 7–25 Januari 2026. Turnamen ini akan jadi ajang unjuk gigi generasi muda Asia. Sayangnya, tanpa Indonesia.
Bagi Garuda Muda, kegagalan ini harus jadi bahan bakar untuk bangkit. Kalau tidak, prestasi dua tahun lalu akan tinggal kenangan, bukan fondasi menuju masa depan.
Editor : afsport