Menpora Erick Thohir Doakan Lima Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda
Jakarta, Afsport.id -- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan doa dan keprihatinan atas hilang kontaknya lima jurnalis yang sedang
Jakarta,AFSport.id,-Menjadi atlet profesional tidak semestinya membuat seseorang mengesampingkan pendidikan. Bagi mantan pebasket tim nasional Indonesia, Cokorda Raka Satrya Wibawa, prestasi di lapangan memang penting, tetapi pendidikan tetap dibutuhkan sebagai bekal ketika karier olahraga telah berakhir.
Pandangan tersebut lahir dari pengalaman pribadinya. Setelah melewati perjalanan sebagai pebasket profesional hingga memperkuat timnas Indonesia, Cokorda Raka kini menjalani profesi sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.
Menurutnya, karier seorang atlet memiliki batas waktu. Karena itu, atlet perlu mempersiapkan kehidupan setelah tidak lagi aktif bertanding, salah satunya dengan tetap menyelesaikan pendidikan.
"Olahraga prestasi, baik sebagai pelatih maupun atlet, umurnya tidak panjang, terutama atlet. Setelah tidak menjadi atlet, kita mau jadi apa? Kalau punya latar belakang pendidikan yang bagus, masih ada modal untuk terjun ke kehidupan berikutnya," tutur mantan atlet timnas basket asal Bali ini.
Cokorda Raka mengaku bukan perkara mudah menjalankan pendidikan sekaligus mengejar prestasi olahraga. Ia pernah menghadapi jadwal ujian yang bertepatan dengan pertandingan. Namun, situasi tersebut disiasatinya dengan pengaturan waktu yang disiplin.
Ia bahkan pernah mengikuti ujian pada pagi hari sebelum bertolak ke Solo untuk menjalani pertandingan pada malam harinya. Pengalaman serupa terjadi ketika timnas Indonesia bertanding di Singapura. Ia menyelesaikan ujian terlebih dahulu sebelum menyusul rekan-rekannya ke lokasi pertandingan.
Dukungan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang membuatnya mampu menjalani dua jalur tersebut. Kedua orang tuanya yang berlatar belakang akademisi terus mendorong agar pendidikan dan olahraga tetap berjalan bersamaan.
"Kalau bisa jalan dua-duanya, kenapa enggak. Mereka juga yakin saya bisa," ujarnya.
Perjalanan Cokorda Raka di dunia basket sebenarnya baru dimulai secara serius ketika ia duduk di kelas 3 SMP atau sekitar usia 14-15 tahun. Sebelumnya, ia sempat mencoba sejumlah olahraga, seperti tenis, sepak bola, bulu tangkis hingga renang.
Postur tubuhnya yang mencapai 205 sentimeter kemudian menjadi salah satu modal untuk mengembangkan kemampuan di basket. Dari belajar teknik dasar hingga menjalani latihan secara rutin, perjalanan itu akhirnya membawanya ke level profesional dan timnas Indonesia.
Salah satu momen yang paling berkesan baginya terjadi ketika memperkuat timnas basket Indonesia di SEA Games 2001. Kala itu, Indonesia berhasil meraih medali perak dalam persaingan ketat basket Asia Tenggara.
"Setiap kemenangan pasti mengesankan. Tapi saat timnas Indonesia di SEA Games 2001 mendapat medali perak, saya kebetulan ada di tim itu. Itu menjadi salah satu momen sejarah basket Indonesia," kata pria 205 cm tersebut.
Kini, menurut Cokorda Raka, peluang atlet muda untuk tetap mengembangkan pendidikan semakin terbuka. Berbagai program beasiswa olahraga di tingkat sekolah hingga perguruan tinggi dapat dimanfaatkan atlet untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus mempertahankan prestasi.
"Olahraga itu salah satu jalan untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Sekarang sebenarnya lebih mudah dibanding zaman dulu. Apalagi di era digital, informasi lebih mudah didapat," katanya.
Setelah menjadi ASN Kemenpora melalui jalur prestasi, Cokorda Raka juga merasakan perubahan besar dalam menjalankan peran. Jika dahulu dirinya menjadi pihak yang mendapatkan dukungan untuk mengejar prestasi, kini ia berada di posisi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Kalau di atlet profesional kita dilayani. Kalau di birokrasi, kita melayani," ujarnya.
Ia menilai kemampuan beradaptasi dan kedisiplinan menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan tersebut. Menurutnya, perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus sehingga setiap orang harus mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi hambatan.
"Keep moving forward. Semua pasti ada halangannya. Kita harus beradaptasi dan mencari jalan untuk mengatasinya," katanya.
Pesannya kepada generasi muda pun sederhana. Prestasi olahraga layak diperjuangkan, tetapi pendidikan jangan sampai ditinggalkan. Sebab, kekalahan maupun kegagalan dalam olahraga bukan akhir dari perjalanan.
"Kekalahan itu pasti ada, apalagi sebagai atlet. Kekalahan memang pukulan berat, tetapi masih ada hari esok yang harus kita lalui dengan memperbaikinya. Kekalahan itu hanya satu langkah lagi menuju kemenangan," pungkasnya.(*)
Editor : Mahrus
Jakarta, Afsport.id -- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan doa dan keprihatinan atas hilang kontaknya lima jurnalis yang sedang
Jakarta, Afsport.id -- Tim debutan Liga Champions, Como 1907, mencatat hasil mengejutkan dengan mengalahkan wakil Jerman, RB Leipzig, 4-1 di Stadion Giuseppe
Jakarta, Afsport.id -- Bayern Munich tampil perkasa dengan menghajar wakil Norwegia, Bodo/Glimt, lima gol tanpa balas pada laga Liga Champions di Allianz
Jakarta, Afsport.id-- Manchester United mengawali perjalanan di Liga Champions 2026/27 dengan kemenangan meyakinkan 4-0 atas Sabah di Stadion Old Trafford,
Jakarta, Afsport.id -- Manchester United (MU) kembali tampil di Liga Champions setelah absen selama beberapa musim. Setan Merah akan mengawali perjuangannya
SUMENEP, Afsport.id -- Olahraga tradisional balbudih kembali semarak di Kabupaten Sumenep, khususnya di Kecamatan Lenteng. Permainan tradisional tersebut